Aku, Ikan, dan Pohon
Suatu hari di sekolah, terdapat seorang siswa yang bernama Ilham. Ia merupakan anak dari seorang dosen di suatu kampus ternama. Ayahnya adalah ahli matematika sedangkan ibunya adalah dosen bahasa inggris. Tetapi anak mereka tak mewarisi bakat kedua orang tuanya itu
Keesokan harinya Ilham melaksanakan quiz matematika. Gurunya pun bertanya dan sengaja menunjuk kearah Ilham karena ingin mengetesnya. Guru bertanya “ Ilham 5600 dibagi 8 berapa?” Ilham pun kebingungan dan tak tahu jawabannya
Gurunya yang kesal pun berkata dan membandingkan Ilham dengan orang tuanya “ masa soal begini saja tidak bisa, ayah dan ibu kamu itu pintar loh.” Ilham yang kesal dengan pernyataan si guru pun menyuruh guru menggambar kerangka manusia di hadapan murid murid.
Kemudian guru tersebut menggambar, dan hasil gambarannya kurang memuaskan. Semua murid tertawa. Guru tersebut pun marah kepada ilham “kamu mau mempermalukan saya yah?” Ilham pun menunjukan gambar tentang kerangka manusia. Kemudian ia berkata “bu, masa kalah gambarannya. Notabenenya saya masih murid smp, kok ibu kalah.” Guru pun menjawab “yah saya kan tidak lihai menggambar jangan paksa saya dong” Ilham menjawab kembali “kalau begitu, jangan bandingkan saya dengan ayah dan ibu saya dong bu. Setiap orang punya bakat masing masing. Ikan tidak bisa memanjat pohon, tetapi dia bisa berenang dengan cepat.” Mendengar hal itu gurunya tersipu malu dan meninggalkan kelas.
Kita tidak bisa memaksakan kemampuan seseorang untuk sama atau lebih hebat dari yang bukan kemampuan mereka. Tidak bisa matematika bukan berarti dia bodoh, hanya saja itu bukan keahliannya. Karena sesuatu yang dipaksakan itu tidak baik, setiap orang punya porsi dan kemampuan tersendiri.
Comments
Post a Comment