Mbah Siti dan Arka
Cerpen berdasarkan hikayat : Malim Deman
Suatu hari, hiduplah seorang wanita yang hidup sebatang kara bernama Siti Ariza atau yang biasa dikenal dengan Mbah Siti oleh orang sekitarnya. Mbah Siti sudah tinggal sendiri sejak 20 tahun yang lalu, ia ditinggalkan oleh suaminya dan mereka tak memiliki keturunan karena Mbah Siti tidak bisa menghasilkan keturunan. Selama 20 tahun, ia lewati dengan sendiri tanpa seorang pun ada di sampingnya. Setiap malam, Mbah Siti selalu berdoa kepada sang Maha Kuasa untuk memberikannya keturunan. Mbah Siti bekerja serabutan untuk menghidupi dirinya sendiri.
Pada suatu
hari yang terik, pergi lah Mbah Siti ke rumah tetangganya untuk bekerja. Di jalan,
Mbah Siti bertemu dengan Miska Kin. Miska Kin adalah salah satu orang yang
sangat di hormati di desanya, beliau sangat ramah dan suka membantu warga yang
kesusahan. Namun, nasib Miska sama dengan Mbah Siti. Miska sudah menikah dengan
seorang lelaki tampan dan mapan selama 13 tahun tapi tak kunjung mendapatkan
keturunan.
Sesampainya
dirumah tetangganya, Mbah Siti melakukan pekerjaannya dengan baik dan kemudian
menyelesaikan pekerjaannya. Saat di jalan pulang, perut Mbah Siti berbunyi yang
menandakan bahwa ia lapar. Untung saja ia bekerja harian sehingga ia sudah
mendapatkan upah dan menggunakannya untuk menuntaskan rasa laparnya. Ketika Mbah
Siti sampai di rumah, ia melihat ada sebuah keranjang di depan pintu rumah. Dengan
rasa penasaran, Mbah Siti membuka keranjang tersebut dengan hati hati dan
terkejut lah Mbah Siti karena ternyata keranjang tersebut berisi bayi laki laki
yang sangat tampan.
Mbah Siti
membawa bayi tersebut ke dalam rumah namun ketika ia ingin mengeluarkan bayi
tersebut dari keranjang, ia melihat secarik kertas yang berisi “kepada Siti Ariza, aku memberi tanggung
jawab untuk membawa bayi ini ke rumah milik Miska Kin. Jika kau dapat
melaksanan tugasmu dengan baik, kau akan mendapatkan balasan yang sangat baik
bagimu”. Setelah membaca surat tersebut, Mbah Siti marah dengan berpikir
bahwa buat apa ia bawa bayi ini kepada Miska sedangkan dirinya sendiri pun
tidak memiliki keturunan.
Mbah
Siti menyimpan bayi tersebut dan membesarkan anak laki laki itu dengan mandiri
namun dengan menyembunyikan fakta bahwa sebenarnya anak laki laki itu bukan
haknya. Setiap hari ia rawat anak tersebut dengan hati hati sehingga perlahan
lahan hilang lah rasa sedihnya selama ini karena sekarang ia sudah memiliki
Arka, Mbah Siti menamai anak laki laki itu dengan nama “Arka”. Arka pun semakin
tumbuh dewasa dengan didikan Mbah Siti, Arka tumbuh menjadi seorang lelaki
dewasa yang pintar dan baik hati.
Hari ini
Arka menginjak usia 17 tahun, di hari spesialnya ia berharap dapat merayakannya
di rumah hanya berdua dengan ibunya. Namun ia merasa sedih karena sesaat ia terbangun,
ia sudah tidak mendapatkan ibunya di rumah. Arka juga merasakan bahwa akhir
akhir ini, ibunya sering tidak berada di rumah dan sikap ibunya pun berubah,
ibunya berubah menjadi seorang pemarah meskipun Arka tidak melakukan kesalahan
sedikit pun. Tanpa memikirkan terlalu panjang, ia pun beranjak dari tempat
tidurnya untuk mandi dan membersihkan rumah.
Petang tiba
namun ibunya tak kunjung muncul, Arka akhirnya merayakan ulang tahunnya sendiri
namun tetap dengan harapan bahwa ibunya akan segera pulang. Arka berniat
mencari piring di laci namun ketika ia mengangkat piring tersebut dari laci,
Arka melihat ada secarik kertas yang jatuh. Dengan rasa penasarannya, Arka
membuka surat tersebut dan membaca isinya. Alangkah terkejutnya Arka melihat
isi surat yang berisi fakta bahwa sebenarnya ia bukan anak Mbah Siti melainkan
anak Miska Kin.
Tanpa pikir
panjang, Arka membereskan barang barang miliknya dan menyempatkan untuk menulis
surat untuk ibunya. Arka menaruh kertas tersebut di atas meja makan sehingga
ibunya dapat menemukan kertas tersebut dengan mudah. Arka meninggalkan rumah
tersebut dengan tangisan, ia tidka menyangka bahwa selama ini ibunya telah
berbohong kepadanya. Arka sedih karena selama ini ia hidup dengan kebohongan
yang dilontarkan oleh ibunya. Arka menuju rumah Miska dan memberitahu Miska
kebenarannya. Arka juga meminta Miska untuk mengirimkannya ke kota untuk
mencari suasana baru.
Ayam berkokok
menandakan bahwa matahari telah terbit, Mbah Siti baru saja pulang ke rumah. Ketika
ia masuk ke rumah, ia tidak merasakan kehadiran Arka dan kemudian berjalan
menuju ruang makan. Mbah Siti mendapat secarik kertas bertuliskan “Ibu, ini Arka. Arka minta maaf jika dengan
tidak sopan membaca kertas yang ibu simpan di laci piring. Namun kertas
tersebut membuat Arka tahu bahwa fakta
sebenarnya ialah Arka bukan anak ibu. Arka juga merasa bahwa ibu sudah tidak
sayang lagi pada Arka. Terima kasih ibu sudah merawat Arka selama 17 tahun.
Arka sayang ibu.” Tinggal lah Mbah Siti seorang diri, ia sangat menyesali
perbuatannya selama ini. Nasi sudah menjadi bubur, ia hanya dapat menangisi
perbuatannya selama ini.
Unsur Instrinsik :
- Tema : Pengkhianatan
- Penokohan :
1.Siti Ariza atau Mbah Siti : Egois, Pembohong
2. Arka : baik hati, ramah, suka membantu
3. Miska Kin : baik, suka membantu, berhati mulia
- Latar :
1. Tempat : desa, rumah, rumah tetangga, jalan
2. Waktu : petang, fajar, siang
3. Suasana : menyenangkan, sedih,
- Alur : Maju
- Amanat : jika diberi sebuah tanggung jawab, maka lakukan
dengan bijak. Jangan sekali kali mencoba untuk berbohong karena pada akhirnya
semua akan terbongkar
Comments
Post a Comment